Perjalanan ke Perumahan di Citayam
Pada tanggal 07 - 14 Maret kemarin diadakan pameran rumah idaman di gedung pertemuan balai Kartini. Singkat cerita saya mengunjungi pameran tersebut pada hari pertama pameran, yakni hari Sabtu (07/03) bersama sahabat saya.
Sesampainya kami disana, saya melihat pameran tersebut masih sepi pengunjung, mungkin karena kami datang pada hari pertama pikir saya. Berbagai macam rumah dan rumah susun sederhana milik bersubsidi (rusunami) ditawarkan melalui brosur dan paket-paket kredit KPR. Karena saya hanya berniat untuk refreshing dan rasa ingin tahu akan biaya rumah, jadinya saya hanya mengumpulkan semua brosur dan price list yang diberikan secara cuma-cuma tersebut.
Tak terasa telah dua jam kami di pameran tersebut, kaki terasa pegal juga, dan kami telah selesai mengunjungi semua stand yang ada di pameran tersebut. Kamipun bergegas untuk kembali pulang.
Sepulangnya di rumah, iseng-iseng saya menyortir brosur-brosur tersebut untuk memisahkan harga rumah yang masih terjangkau dengan kocek saya (maklum PNS, berapa sih gajinya!). Namun, setelah melakukan penyortiran, cuma ada satu brosur yang menarik perhatian saya, secara yang lain harga KPR yang ditawarkan rata-rata di atas RP2,5 juta (gaji PNS mana cukup coy! mengingat syarat kredit KPR itu adalah jumlah gaji total yang diperoleh sebulan harus tiga kali dari biaya kredit KPR perbulannya).
Brosur yang menarik perhatian saya itu adalah perumahan GCP, di daerah Citayam. Dengan DP Rp5 juta dan cicilan KPR RP300 ribu perbulan (selama 10 tahun) kita sudah dapat memiliki rumah tipe 27/60. Dan yang lebih membuat saya tertarik, adalah lokasi yang berdekatan dengan stasiun Citayam, di brosur tertera tulisan hanya 15 menit jalan kaki dari perumahan ke stasiun. Niat untuk survey ke TKP-pun semakin membara nih!
Kebetulan sekali sahabat saya yang lain juga sedang mencari rumah, kemudian kami menentukan waktu untuk survey bersama. Setelah kami bertemu, sahabat saya melihat-lihat brosur yang saya bawa, hasil dari pameran. Ternyata teman saya langsung tertarik dengan perumahan di daerah sawangan, dan kami langsung menuju ke perumahan yang dimaksud.
Sesampainya kami di perumahan sawangan tersebut, sahabat saya langsung suka dengan rumah yang ada di perumahan tersebut. Baik kondisi bangunan, lokasi, dan fasilitas-fasilitas lain yang diberikan oleh developer. Sahabat saya langsung memutuskan untuk mengambil rumah di perumahan tersebut. Sedangkan saya, walaupun suka dan tertarik, tetapi hanya bisa gigit jari, karena harga rumah tersebut tidak terjangkau dengan kemampuan PNS seorang, hiks..hiks...
Hari mulai gelap, tak terasa sudah sore (sekitar jam 5) dan agak mendung juga sih... Saya kembali bersiap untuk ke perumahan di Citayam yang telah menarik perhatian saya itu, yang katanya cuma 15 menit jalan kaki dari stasiun Citayam. Sedangkan sahabat saya tidak melanjutkan perjalanan, karena sudah menemukan rumah impiannya.
Kami berpencar di jl. Raya Sawangan, sahabat saya menunjukkan arah jalan ke Citayam. setelah menelusuri jalan yang diarahkan sahabat saya tersebut, saya menemukan persimpangan yang memecah menjadi dua, di papan penunjuk jalan sebelumnya tertera ke kiri menuju cinere, dan ke kanan menuju citayam, sehingga saya membelokkan arah ke kanan.
Namun, setelah mengikuti jalan tersebut, jalan yang saya lalui semakin mengecil, sehingga hanya bisa dilewati oleh satu mobil. Kualitas dari jalan/aspal juga semakin memburuk saja, dan perumahan penduduk semakin jarang terlihat, hanya kebun-kebun yang menghiasi jalan. Hati kecil saya bertanya-tanya, "bener gak ya nih jalannya? jangan-jangan nyasar lagi". Sehingga saya selalu bertanya tiap kali menemukan persimpangan.
Hari semakin gelap, rasa takut mulai menyelimuti perasaan saya. Berbagai perasaan khawatir mulai muncul, "Duh jangan sampe udah gelap masih blom sampai, atau paling tidak sudah di jalan raya," gumam saya. Terus bertanya dan bertanya ketika menjumpai penduduk, akhirnya saya menjumpai jalan yang aspalnya sudah tidak ada lagi, alias hanya batu-batu besar, dan tidak ada rumah sama sekali, hanya semak belukar dan tanah lapang sejauh mata memandang.
"Mak!!!, jangan sampe ban motor gw bocor (secara pake ban tubeless, bisa susah nyari tukang tambal ban, mana di daerah kayak gini). Mati dah gw kalo dah gelap masih nyasar di daerah kayak gini" jerit hatiku. Takut-takut kalau ada orang yang berniat jahat. Naudzubillaahiminzaliik
Tetapi, tak berapa lama, akhirnya saya melihat perumahan penduduk, rasa cemas dan takut hilang seketika. Kemudian saya melihat anak kecil yang sedang berjalan, mungkin kelas 5 atau 6 SD taksir saya. Setelah saya hampiri, saya tanyakan kemana arah ke stasiun Citayam. Dengan lantang dan fasihnya adik kecil tersebut memberitahu, sayapun menuruti petunjuk yang diberikan oleh adik kecil itu.
Alhamdulillaah, akhirnya saya sudah tiba di jalan raya yang saya sudah pernah lalui sebelumnya. Waktu itu sebelum magrib (langit belum menjadi benar-benar gelap), sehingga tiba di stasiun Citayam bukan masalah lagi. Setibanya di stasiun Citayam, saya bertanya kepada salah seorang pedangan di sekitar stasiun akan lokasi perumahan GCP, pedagang tersebut berusaha mengingat, dan akhirnya memberikan petunjuk arah mana yang harus saya lalui.
Hujan mulai turun membasahi aspal, sayapun mengikuti petunjuk yang diberikan oleh pedagang tersebut. "Alamaak...mana nih perumahan, bilangnya cuma 15 menit dari stasiun, ini udah 20 menit tapi kok gak keliatan juga tuh perumahan? Mana bilangnya 15 menit jalan kaki lagi, ini naek motor udah 20 menit," protesku.
Mulai bimbang akan kebenaran jalan yang saya lalui, akhirnya saya bertanya ke penduduk akan keberadaan perumahan tersebut. Ternyata jalan yang saya lalui sudah benar, dan tidak jauh, perumahan tersebut sudah terlihat. Tetapi, perumahan tersebut tampak sangat sepi dan belum berpenghuni, meskipun beberapa rumah telah selesai dibangun. Kantor pemasaranpun telah tutup (walaupun buka juga males masuk, rasa minat membeli sudah hilang, melihat lokasi, jarak dari perumahan ke stasiun, dan perjalanan yang telah dilalui).
Kumandang adzan pun terdengar merdu dan saling bersahut-sahutan antara satu masjid dengan masjid lainnya. Saya pergi menuju ke Masjid. Setelah melaksanakan sholat Magrib berjamaah, saya langsung bergegas pulang ke rumah.
Dasar marketing, ingin dagangannya laku, bisa-bisanya nulis 15 menit jarak tempuh dari stasiun ke perumahan, jalan kaki pula!!! Huff.... Tapi gak apa-apa juga deh, nambah pengalaman...Tapi jangan sampai terulang kembali. Aaamiiin...
Thursday, March 19, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
